jump to navigation

Jatim Awali Pembentukan PT Jamkrida (Permudah akses UMKM ke Perbankan) 21 Januari 2010

Posted by Samsul Hadi in berita.
Tags: , , , ,
3 comments

Jatim menjadi pioner pembentukan Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD). Ini setelah pemerintah provinsi (Pemprov) Jatim meresmikan PT Jamkrida (Jaminan Kredit Daerah). BUMD ini menempati salah satu ruangan di Gedung Bank Jatim.

Gubernur Soekarwo berharap, keberadaan LPKD bisa membantu 70 persen UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang belum bankable agar dapat mengakses perbankan. Jatim sendiri saat ini memiliki 4,2 juta UMKM. “Apalagi, UMKM memberi kontribusi besar terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Dari total PDRB Rp 697 triliun, Rp 367 triliun atau 53, 4 persen adalah sumbangan UMKM,” papar Soekarwo saat meresmikan PT Jamkrida kemarin (15/1).

Selain itu, pendirian Jamkrida diharapkan mampu menyelamatkan DPK (Dana Pihak Ketiga) perbankan Jatim sebesar Rp 53 triliun yang keluar daerah. Total DPK selama 2009 mencapai Rp 197 triliun. ”DPK yang disalurkan untuk kredit tidak maksimal, karena banyak UMKM yang tidak menyerapnya. Jamkrida ini yang akan memberikan jaminan kredit UMKM , yang sebelumnya tak memiliki akses ke perbankan,” tambahnya.

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) A. Fuad Rahmany mengatakan, saat ini sudah banyak pemprov yang mengutarakan minatnya untuk membentuk LPKD. “LPKD ini urgen keberadaannya untuk mendorong kredit di daerah. Yang segera menyusul DKI Jakarta dan Bali. Tapi, akan kita lihat dulu. Semoga makin banyak pemprov yang mau bikin LPKD,” tuturnya.

Saat ini, banyak Pemprov yang masih kesulitan memahami aturan pembentukan lembaga penjaminan kredit. Padahal, semua aturan tersebut sudah dijelaskan pada Peraturan Menkeu. “Semakin banyak LPKD tentu makin bagus dalam menunjang pergerakan ekonomi di daerah,” kata Fuad Dirut PT Jamkrida Jatim Ahmad Nurchasan menambahkan, pihaknya akan fokus mendorong UMKM untuk menggerakkan roda usahanya lewat kemudahan pembiayaan. Pada tahap awal, Jamkrida akan menggandeng Bank Jatim dan BPR Jatim. Namun ke depan, Jamkrida akan bekerja sama dengan seluruh bank yang beroperasi di Jatim. “Semester kedua tahun ini, sudah ada tambahan bank-bank yang bekerja sama,” katanya.

Untuk tahun ini, Jamkrida siap beroperasi dengan melakukan penjaminan kredit hingga Rp 1,3 triliun . Nilai tersebut diasumsikan dari modal disetor Rp 50 miliar. Perinciannya, Rp 30 miliar (60 persen) untuk meningkatkan kredit produktif sampai Rp 300 miliar dengan gearing ratio 10 kali. Serta, Rp 20 miliar ( 40 persen) untuk meningkatkan kredit non produktif sampai Rp 1 triliun.

sumber: Jawapos

Pasar Perbankan Oligopoli 16 Januari 2010

Posted by Samsul Hadi in Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Saat perekonomian melambat pada tahun 2009, kinerja keuangan sektor perbankan menjadi anomali dibandingkan dengan sektor-sektor usaha lainnya. Fenomena ini mencerminkan industri perbankan yang oligopoli sehingga menihilkan persaingan.

Anomali terjadi karena pada saat laba sektor ekonomi lain menurun, laba sektor perbankan justru meningkat pesat pada tahun 2009.

Berdasarkan data CEIC, laba bersih perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor otomotif per Juni 2009 rata-rata turun 17 persen dibandingkan dengan Juni 2008.

Pada periode yang sama, laba bersih industri asuransi anjlok 25 persen. Laba bersih industri properti anjlok lebih parah, 93 persen. Bahkan, industri baja harus mencatat kerugian pada Juni 2009 dari sebelumnya untung.

Kondisi sebaliknya terjadi pada industri perbankan, yang justru mencatat pertumbuhan laba bersih 27 persen pada periode yang sama.

Volume penjualan semua sektor ekonomi turun pada 2009, termasuk kredit perbankan. Namun, perbankan bisa menghindari penurunan laba karena leluasa menaikkan margin keuntungan dengan memperbesar rentang (spread) suku bunga dana dan suku bunga kredit.

Ekonom Iman Sugema di Jakarta, Jumat (15/1), mengatakan, tidak seperti sektor ekonomi lain yang penuh persaingan, sektor perbankan tergolong pasar yang oligopoli atau pasar yang diatur oleh sejumlah bank.

Industri perbankan yang terdiri dari 122 bank sebenarnya hanya dikendalikan oleh 14 bank yang memiliki pangsa pasar 90 persen.

Di tengah penurunan bunga deposito yang cepat, bank-bank pengendali justru memperlambat penurunan bunga kredit sehingga margin keuntungan juga membesar.

Situasi krisis makin parah

Rata-rata rentang suku bunga deposito dan kredit perbankan nasional per November 2009 mencapai 5,78 persen, dengan rincian deposito sebesar 7,16 persen dan kredit 12,94 persen.

Rentang bunga terus meningkat sejak Januari 2009 yang hanya 3,66 persen. Kondisi ini, kata Iman, tergolong pro cyclical atau menambah situasi krisis semakin parah. Sektor riil dan masyarakat yang membutuhkan modal untuk bangkit dari krisis akhirnya tidak bisa mengakses kredit karena bunganya relatif tinggi.

Dalam situasi ini, kebijakan moneter bank sentral melalui transmisi suku bunga menjadi tidak efektif. Di tengah daya beli debitor yang menurun, beban membayar bunga akan terasa lebih berat. Debitor tak bisa berbuat apa-apa karena posisi tawar yang lemah.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara menjelaskan, peningkatan laba bersih perbankan dipicu sejumlah hal. Pertama, bank tidak banyak menyisihkan biaya pencadangan karena peningkatan kredit bermasalah relatif kecil.

Kedua, penurunan bunga deposito pada triwulan IV-2009 akibat kesepakatan 14 bank besar telah meningkatkan margin bunga bank.

Menurut Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, peningkatan laba bersih perbankan juga disebabkan oleh keberhasilan perbankan menghimpun dana murah, seperti tabungan dan giro. Ini membuat biaya dana perbankan semakin rendah.

sumber: KOMPAS CETAK

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.