Satgasda KKMB Jatim Tindaklanjuti MoU dengan PT BPR Jatim 2 Februari 2012
Posted by Samsul Hadi in Kegiatan Forum, Pelatihan/Magang, Pembiayaan, Perbankan.Tags: bds-p, kkmb, pembiayaan, pendampingan
add a comment
Rabu tanggal 1 februari 2012, bertempat di ruang jenggolo Kantor Bank Indonesia Surabaya, Satgasda KKMB Jatim telah bertemu dengan forum BDS-P/KKMB. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menyiapkan tindaklanjut MoU antara Satgasda KKMB Jatim dengan PT BPR Jatim tentang pemberdayaan BDSP-P/KKMB dalam rangka perluasan dan peningkatan pelayanan keuangan mikro PT BPR Jatim kepada usaha mikro kecil, yang telah ditandatangani pada tanggal 27 januari 2012 dihadapan Gubernur BI dan Gubernur Jawa Timur.
Tujuan dari MoU tersebut adalah:
- meningkatnya realisasi kredit usaha mikro dan kecil di PT BPR JATIM sebagai hasil pendampingan BDSP-P/KKMB
- Meningkatnya penempatan dana dari usaha mikro dan kecil di PT BPR JATIM sebagai hasil kegiatan konsultasi dan pendampingan BDSP-P/KKMB
- meningkatnya kapasitas dan kinerja usaha mikro kecil (penguatan kelembagaan dan pengelolaan usaha) debitur PT BPR JATIM sebagai hasil pendampingan BDSP-P/KKMB.
Hal yang menarik dari MoU tersebut adalah:
- kerjasama tersebut dilakukan dalam kerangka PRINSIP BISNIS
- Dukungan penuh Satgasda KKMB Jatim bagi terwujudnya peran BDSP-P/KKMB dalam meningkatkan pembangunan ekonomi UMKM yang sejalan dengan agenda pemerintah propinsi Jawa Timur
- adanya program magang bagi tenaga ahli BDSP-P/KKMB di BPR Jatim khususnya di bidang perkreditan dan penghimpunan dana.
Perjanjian kerjasama sedang disiapkan sebagai tindaklanjut MoU tersebut. semoga bulan maret nanti sudah bisa terwujud dan mulai bergerak di lapangan.
Pentingnya Pendampingan UKM 12 November 2009
Posted by Samsul Hadi in Uncategorized.Tags: bds, bdsp, pendamping, pendampingan, ukm, umkm
add a comment
Kunci penting keberhasilan usaha kecil dan menengah (UKM), sebagaimana diakui para pengusaha, adalah masalah pendampingan, bukan semata-mata jaminan dana. Sementara pendampingan di bidang produksi justru dirasakan minim, termasuk dari pemerintah. Pengusaha akhirnya harus mencari strategi sendiri untuk dapat bertahan.
Industri furnitur antik, misalnya, bukan sekadar memproduksi, tetapi juga membutuhkan pendampingan produksi untuk menciptakan produk dengan nilai tambah berlabel ramah lingkungan dan produk yang asal-muasal bahan bakunya dapat dipertanggungjawabkan kelestariannya.
Selain itu, pendampingan juga dibutuhkan di bidang manajemen keuangan. Zaman semakin susah, mekanisme pembayaran yang dilakukan baik oleh broker maupun pembeli asing harus dilakukan hati-hati.
Untuk memutar usaha, skema pembayaran pemesanan produk bisa dilakukan dengan cara membayar uang muka sebesar 30 persen dari total pembelian. Ketika proses produksi dimulai, tahap pembayaran berikutnya dilakukan sebesar 20 persen. Sewaktu produk sudah jadi, konsumen diminta lagi pembayaran 20 persen. Sebelum barang dikirimkan, sisanya dibayar lunas. Jadi tidak ada beban.
UKM Lebih Butuh Pendampingan
Yogyakarta, Kompas – Munculnya peluang alternatif pembiayaan untuk mendorong sektor riil bukanlah jaminan penggerak ekonomi. Pelaku usaha kecil dan menengah lebih membutuhkan pendampingan daripada sekadar didorong untuk memanfaatkan kredit.
Sejumlah pengusaha binaan lembaga pembiayaan PT Sarana Yogya Ventura (SYV) mengungkapkan hal itu di Yogyakarta, Rabu (18/2). Lembaga yang merupakan salah satu perusahaan modal ventura strategis di bawah PT Bahana Artha Ventura (BAV) ini memiliki 244 perusahaan pasangan usaha (PPU) atau kerap disebut UKM.
Chief Executive PT Djawa Furni Lestari Oki Widayanto yang membidangi furnitur antik mengatakan, modal memang penting. Namun, perajin berorientasi ekspor kini lebih membutuhkan pendamping dalam menciptakan produk dan mempertahankan pasar.
”Kunci penting adalah pendamping. Selama ini perbankan hanya menyediakan dana kredit dengan aturan rumit, tetapi melepaskan begitu saja jatuh dan bangunnya pengusaha yang memanfaatkan kredit perbankan,” kata Oki.
Cari strategi sendiri
Menurut Oki, pendampingan di bidang produksi justru dirasakan minim, termasuk oleh pemerintah. Akibatnya, pengusaha harus mencari strategi sendiri untuk bisa bertahan. Misalnya, industri furnitur antik bukan sekadar memproduksi, tetapi juga menciptakan produk dengan nilai tambah berlabel ramah lingkungan dan produk yang asal-muasal bahan bakunya dapat diper- tanggungjawabkan kelestariannya.
Martini Nurhadi, perajin kerajinan tangan, mengatakan, pendampingan dibutuhkan di bidang manajemen keuangan. Zaman semakin susah, mekanis- me pembayaran yang dilakukan baik oleh broker maupun pembeli asing harus dilakukan hati-hati.
Untuk memutar usaha, menurut Martini, skema pembayaran pemesanan produk bisa dilakukan dengan cara membayar uang muka sebesar 30 persen dari total pembelian. Ketika proses produksi dimulai, tahap pembayaran berikutnya dilakukan sebesar 20 persen.
”Sewaktu produk sudah jadi, konsumen diminta lagi pembayaran 20 persen. Sebelum barang dikirimkan, sisanya dibayar lunas. Jadi tidak ada beban,” kata Martini.
Perajin batako Joko Sriyanto mengatakan, pasar domestik kini menjadi tumpuan. Apabila proyek-proyek infrastruktur seperti perumahan dan jalanan segera berjalan, stok produknya tidak akan menumpuk.
PELATIHAN PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN USAHA DAN PROPOSAL KREDIT BAGI BDS-P DAN AO BPR 31 Juli 2009
Posted by Samsul Hadi in berita.Tags: kkmb, pelatihan, pendampingan
add a comment
Satgas pemberdayaan Kosultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) Jawa Timur, di dukung Bank Indonesia Surabaya bekerjasama dengan PEACBromo Surabaya menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Penyusunan Studi Kelayakan Usaha dan Proposal Kredit bagi BDS-P/KKMB dan AO BPR. Kegiatan tersebut dilaksanakan tanggal 8-13 Juni 2009 bertempat hotel Surya prigen Pasuruan.
Pelatihan tersebut diikuti oleh 36 orang dengan latar belakang Konsultan UKM dan AO BPR. Acara tersebut di buka oleh Deputi Pemimpin BI Surabaya Bpk. Wibisono di dampingi oleh Komisaris PEACBromo Bpk. Sulistyo Budi. Dalam sambutannya Deputi Pemimpin BI Surabaya menyampaikan pentingnya Konsultan untuk UKM namun kemampuan dan keahlian mereka kurang maksimal, untuk itu di dalam kegiatan tersebut di harapkan ada manfaat yang bisa di ambil dan diterapkan.
Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut sampai selesai, para instruktur yang menyampaikan materi mempunyai pengalaman dibidangnya sehingga materi yang disampaikan sesuai dengan tema/judul pelatihan ini. Sebelum acara penutupan yang dihadiri oleh Deputi Pemimpin BI Surabaya Bpk. Wibisono, ada penghargaan bagi peserta yang terbaik selain itu juga dibagikan sertifikat. Sedangkan bentuk tindak lanjut peserta membentuk forum konsultan BDS-P, dengan pembentukan forum ini diharapkan ada interaksi antar peserta sehingga ada program-program lanjutan yang dapat dikerjakan.
Tingkatkan akses KUMKM ke bank PEMPROV JATIM BENTUK SATGAS KKMB 4 Mei 2009
Posted by Samsul Hadi in berita.Tags: kkmb, pembiayaan, pendampingan, umkm
add a comment

peresmian satgasda kkmb jatim
Pemerintah Provinsi Jawa Timur membentuk Satuan Tugas Konsultan Keuangan Mitra Bank (Satgas KKMB), sebagai pendamping koperasi usaha mikro kecil dan menengah (KUMKM) guna mengakses kredit bank.
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, menyatakan KKMB berperan mendampingi KUMKM dalam berhubungan dengan perbankan guna mendapatkan pinjaman modal berbunga rendah.
Menurut dia, pembentukan Satgas KKMB didasarkan terbatasnya SDM dan jaringan lembaga pembiayaan/bank dalam menjangkau sektor KUMKM. Di lain pihak, masih banyak KUMKM belum mampu mengakses perbankan, di tengah besarnya potensi sektor usaha tersebut.
“Upaya itu diharapkan mampu menekan angka kemiskinan di Jawa Timur yang mencapai 15,41% dari total jumlah penduduk 38,3 juta jiwa,” ujarnya tatkala meresmikan pengoperasian Satgas KKMB di kantor Bank Indonesiua Cab. Surabaya, belum lama ini.
Pembentukan KKMB diawali SKB antara Menko Kesra dan Gubernur BI tentang perlunya Satgas KKMB di setiap propinsi. Di Jatim, pada Mei 2008 lalu ditindaklanjuti dengan MOU antara Gubernur Jatim yang saat itu dijabat Imam Utomo, dengan Dewan Gubernur BI, Didi Hartadi, yang menyepakati pembentukan Satgas Pemberdayaan KKMB.
Ketua Satgas Pemberdayaan KKMB Jatim, Amril Arifien, mengatakan berdasarkan hasil kajian Bank Indonesia, pelaku UMKM di Jatim belum banyak yang mampu mengakses perbankan sebab belum banyak memenuhi ketentuan aspek bank secara teknis (belum bankable).
“KKMB tidak hanya mendampingi UMKM untuk mengakses perbankan, namun juga mencarikan pasar dari produk yang dihasilkan UMKM sekaligus menata administrasi usaha dan pembukuannya,” tuturnya.
Satgas KKMB pada 2008 berjumlah 157 orang, dan tahun ini akan dididik 200 orang calon satgas baru. (sal)
Satgas KKMB Jatim akan melatih 200 KKMB thn 2009 4 Mei 2009
Posted by Samsul Hadi in berita.Tags: kkmb, pembiayaan, pendampingan
add a comment
Satgasda Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) targetkan melatih 200 KKMB se-Jawa Timur pada 2009 ini. Nantinya, Bank Indonesia sebagai Ketua Satgasda akan menyediakan beberapa fasilitas untuk mendukung fungsi KKMB. Sejak Mei 2008, Bank Indonesia dan gubernur Jawa Timur yang saat itu dijabat Imam Utomo menandatangani MoU mengenai perkembangan perekonomian propinsi di Jawa Timur.
Satu diantaranya pembentukan Satgasda KKMB. Kala itu, Satgasda diketuai oleh BRI, baru kemudian dialihkan kepada Bank Indonesia. Pimpinan Kantor Bank Indonesia, Amril Arief, mengatakan pihaknya kini menindaklanjuti program Satgasda yang sudah dibentuk. Antara lain adalah melakukan pelatihan-pelatihan kepada KKMB yang bisa disebut juga pendamping bank.
Itulah yang melatarbelakangi diadakannya Seminar Sehari “Bersama Satgasda KKMB Kita Tingkatkan Daya Saing UMKM Jawa Timur” di Gedung Bank Indonesia, Kamis (19/02). Bank Indonesia juga akan menyediakan beberapa fasilitas untuk mendukung fungsi KKMB terutama kaitannya dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Mengaktifkan konsultan dengan disediakan ruangan sekretariat, supaya bisa berkonsultasi, ketemuan, mengkaji permasalahan. Kita juga akan menyiapkan satu tempat lagi, sentra UMKM di Gedung BI lama di Jl. Garuda, kita akan kerjasama dengan Pemda. Nantinya (gedung tersebut) bisa dimanfaatkan untuk kegiatan UMKM, pameran atau bazaar,” terang Amril, usai pembukaan Seminar Sehari KKMB, Kamis (19/02).
Data yang dimiliki menyebutkan pada 2008 sudah ada 157 KKMB yang dilatih. Dari 157 itu, tidak semuanya langsung beraktifitas menjadi konsultan keuangan mitra bank. Diakui masih ada kendala. Diantaranya persaingan dengan account official perbankan dan lembaga mikro lainnya. Akibatnya, KKMB tidak mendapat ‘pasar’ baik pasar perbankan maupun UMKM .
Ditambahkan dari 157 KKMB, yang aktif hanya 30-40 persen. Sedangkan, realisasi kredit dari KKMB, masih berkisar antara Rp 18-19 milyar. “Masih kecil kalau dilihat nominalnya, tapi kalau dilihat nasabahnya atau dari jumlah pelaku ekonomi itu sendiri cukup banyak,” ujarnya.
Pada 2009, pihaknya menargetknya 200 KKMB bisa dilatih. Nantinya, pelatihan ini tidak bertujuan sebagai pendamping untuk memperoleh kredit, tapi juga mengatasi permasalahan UMKM secara menyeluruh terutama soal pemasaran.
Selama ini, bank memandang persoalan UMKM berkutat pada modal. Padahal, persoalan terbesar yang dihadapi UMKM adalah pemasaran, bahan baku, sumber daya manusia, dan administrasi atau pembukuan.
