jump to navigation

Kredit Mikro Belum Bisa Tingkatkan Perekonomian 5 Mei 2009

Posted by Samsul Hadi in berita.
trackback

Kompas – Pertumbuhan ekonomi daerah lebih didorong oleh belanja dan investasi pemerintah daerah, bukan oleh perbankan. Kredit mikro yang disalurkan perbankan hanya memanfaatkan geliat pertumbuhan yang dipicu aktivitas pemerintah daerah. Padahal, Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia dalam menyelenggarakan kredit mikro.

Demikian salah satu kesimpulan disertasi doktor Krisna Wijaya berjudul ”Pengaruh Karakteristik Nasabah, Kondisi Perekonomian dan Pembinaan Nasabah terhadap Penyaluran Kredit Umum Pedesaan di BRI Cabang Sleman Yogyakarta”. Disertasi ini diuji pada hari Senin (4/5) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Krisna meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude untuk lintas bidang, ekonomi sosial, dan manajemen.

Krisna adalah mantan direksi BRI, yang kini menjadi Komisaris Danamon. BRI dan Danamon adalah bank yang mengembangkan kredit mikro di Indonesia.

Disertasi Krisna ini mematahkan anggapan bahwa kredit mikro berkontribusi besar terhadap pertumbuhan regional. Setiap kenaikan kredit usaha pedesaan (Kupedes) Rp 1 juta hanya mendorong pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Rp 64.000.

”Sebaliknya, setiap kenaikan PDRB Rp 1 juta bisa mendorong kenaikan Kupedes Rp 270.000,” kata Krisna.

Selain itu, menurut Krisna, minimnya penyaluran kredit di pedesaan bukan karena rendahnya permintaan akibat lesunya perekonomian di daerah setempat. Dalam kasus BRI Cabang Sleman, jumlah simpanan jauh lebih besar ketimbang kredit yang disalurkan.

Lesunya perekonomian di Sleman tidak terbukti karena daerah ini memiliki PDRB yang besar dan terus meningkat. Dengan indikator tersebut, kawasan Sleman sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar.

Hal itu terjadi karena sebagian besar Kupedes disalurkan sebagai pinjaman kepada para pegawai berpenghasilan tetap, yang umumnya digunakan untuk konsumsi. Hanya sebagian kecil yang disalurkan ke usaha produktif sehingga tidak signifikan untuk mendorong peningkatan kapasitas perekonomian.

Krisna mengakui, hasil disertasinya tidak bisa digeneralisasi. Namun, jika penelitian dilakukan dengan model yang sama, cenderung menghasilkan kesimpulan yang sama.

Krisna mengatakan, sumber permasalahan dalam penyaluran kredit mikro antara lain informasi yang minim mengenai prospek usaha di pedesaan dan orientasi perbankan terhadap keuntungan. Ini membuat BRI tidak leluasa melakukan fungsi sosial, seperti halnya Grameen Bank di Banglades.

Oleh karena itu, Krisna mengusulkan agar dilakukan penyempurnaan Kupedes dan kredit mikro lainnya, antara lain, dengan mengadakan mitra pendamping untuk membina pengusaha mikro yang belum memenuhi kriteria perbankan.

Dia juga menyarankan pemerintah agar mengurangi tuntutan dividen. Dengan demikian, BRI bisa mengurangi suku bunga dan memperbanyak petugas lapangan yang membina usaha mikro.

Direktur UMKM Sulaiman A Arianto dalam forum Sidang Tahunan Asian Development Bank kemarin mengatakan, pembiayaan mikro sangat dibutuhkan, untuk mengembangkan bisnis kecil dan mikro.

Pembiayaan mikro, kata Sulaiman, tidak hanya penting dalam pendekatan keuangan, tetapi juga pendekatan sosial.

Pembiayaan mikro yang dijalankan BRI telah memacu pertumbuhan ekonomi di pedesaan dan perkotaan. Bahkan, telah menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas ekonomi dan alat untuk memberdayakan masyarakat. (faj)

Komentar»

1. peacbromo - 5 Mei 2009

point penting dari berita tersebut:
1. penyedotan dana masyarakat dari desa ke kota terbukti benar adanya. dan itu yang ngomong adalah mantan direktur BRI sendiri.
2. dalam menangani usaha mikro, mutlak dibutuhkan pendamping. bila mau efisien, hal itu dilakukan dalam pola kelompok. namun bila tidak, pendampingan bisa dilakukan secara individu usaha mikro, meski jadinya mahal.
3. untuk usaha mikro, cara paling efektif adalah menambahkan peran LKM sebagai pendamping. artinya, tenaga pendamping disediakan dan dibiayai oleh LKM (apakah itu bmt, koperasi, kjks, dlsb).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: