jump to navigation

KUR Mikro Tak Perlu Agunan 13 November 2009

Posted by Samsul Hadi in Uncategorized.
Tags: , ,
trackback

Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan memastikan pelaku usaha mikro tidak akan dibebani lagi dengan agunan tambahan untuk mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) kurang dari Rp5 juta.

“Secara lisan keenam bank peserta penyalur KUR menyatakan setuju dengan permintaan kami agar kredit dengan plafon Rp5 juta ke bawah tidak lagi dibebani agunan tambahan,” ujar Sjarifuddin, kemarin.

Keenam bank penyalur KUR, yakni Bank BTN, Bank BNI,Bank BRI, Bank Bukopin, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Mandiri, juga diminta melakukan sosialisasi penghapusan agunan itu ke seluruh wilayah kerja setiap bank.

Sistem Bank Indonesia (BI) checking juga tidak diperlukan lagi untuk kredit skala mikro, termasuk persyaratan mengakses KUR dengan syarat harus membuka usaha minimal 6 bulan.

Menurut Syarifuddin, sudah saatnya perbankan ikut mendorong penciptaan wirausahawan baru seperti yang ditargetkan pemerintah, terutama melahirkan pengusaha skala mikro dan kecil.

“Intinya, dalam program kerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II, perbankan harus membantu pemerintah dengan menunjukkan keberpihakan kepada usaha mikro, kecil dan menengah, termasuk menurunkan bunga KUR,” tukasnya.

Kebijakan tersebut akan diberlakukan setelah bank peserta penyalur KUR menyerahkan konsep penurunan bunga KUR dari 16% ke tingkat lebih rendah. Setelah pembahasan selesai di tingkat menteri terkait, kebijakan langsung diaplikasikan oleh bank.

Langkah strategis Kementerian Koperasi dan UKM bagi penyebaran secara lebih luas program KUR, akan menambah jumlah perbankan.

Untuk peningkatan kualitas usaha mikro, pemerintah akan memberi pendampingan teknis dengan memanfaatkan lembaga penyuluh seperti konsultasi keuangan mitra bank, business development services, dan perusahaan ventura.

Direktur UMKM Bank BRI Sulaiman Arif Arianto mengatakan penyesuaian bunga kredit perlu, tetapi harus dimengerti bahwa besaran bunga KUR saat ini bukan hanya mencari laba sebesar-besarnya.

“Apalagi takut karena risiko macet, sebab sudah ada pola penjaminan. Suku bunga yang kami terima, lebih banyak untuk menutupi biaya transaksi atau overhead yang relatif besar dikeluarkan bank penyalur,” ungkap Sulaiman.

Sulaiman mengatakan debitur KUR bisa menjadi embrio untuk jadi debitor kredit komersial. Pada akhirnya penerima KUR tidak hanya melunasi kewajibannya dan berhenti menjadi nasabah.

Pengusaha baru

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) meminta penyaluran KUR yang ditargetkan mencapai Rp100 triliun dalam 5 tahun mendatang agar tepat sasaran.

Tambahan pinjaman kredit yang diprogramkan sejak 2007 itu diproyeksikan mampu menciptakan 12 juta pengusaha baru. “Hipmi meminta supaya KUR tepat sasaran,” kata Ketua Umum Hipmi Erwin Aksa.

Tepat sasaran artinya harus diberikan kepada usaha mikro yang bagus tetapi dianggap tidak bankable. Menurut dia, hal yang mesti dihindari adalah konversi debitur lama mendapat KUR.

Konsep dasar KUR tidak hanya terkait dengan upaya membuka akses kredit bagi usaha kecil, tetapi juga harus menciptakan pengusaha baru. “Bila pengusaha baru ini mampu membayar pinjaman kurang dari Rp10 juta, mereka bisa bermutasi ke kredit komersial,” ujarnya.

Dalam 2 tahun terakhir, penyaluran KUR lebih dari Rp14 triliun kepada 2 juta debitur usaha mikro harus tercipta minimal 2 juta pengusaha baru.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: