jump to navigation

Pasar Perbankan Oligopoli 16 Januari 2010

Posted by Samsul Hadi in Uncategorized.
Tags: , ,
trackback

Saat perekonomian melambat pada tahun 2009, kinerja keuangan sektor perbankan menjadi anomali dibandingkan dengan sektor-sektor usaha lainnya. Fenomena ini mencerminkan industri perbankan yang oligopoli sehingga menihilkan persaingan.

Anomali terjadi karena pada saat laba sektor ekonomi lain menurun, laba sektor perbankan justru meningkat pesat pada tahun 2009.

Berdasarkan data CEIC, laba bersih perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor otomotif per Juni 2009 rata-rata turun 17 persen dibandingkan dengan Juni 2008.

Pada periode yang sama, laba bersih industri asuransi anjlok 25 persen. Laba bersih industri properti anjlok lebih parah, 93 persen. Bahkan, industri baja harus mencatat kerugian pada Juni 2009 dari sebelumnya untung.

Kondisi sebaliknya terjadi pada industri perbankan, yang justru mencatat pertumbuhan laba bersih 27 persen pada periode yang sama.

Volume penjualan semua sektor ekonomi turun pada 2009, termasuk kredit perbankan. Namun, perbankan bisa menghindari penurunan laba karena leluasa menaikkan margin keuntungan dengan memperbesar rentang (spread) suku bunga dana dan suku bunga kredit.

Ekonom Iman Sugema di Jakarta, Jumat (15/1), mengatakan, tidak seperti sektor ekonomi lain yang penuh persaingan, sektor perbankan tergolong pasar yang oligopoli atau pasar yang diatur oleh sejumlah bank.

Industri perbankan yang terdiri dari 122 bank sebenarnya hanya dikendalikan oleh 14 bank yang memiliki pangsa pasar 90 persen.

Di tengah penurunan bunga deposito yang cepat, bank-bank pengendali justru memperlambat penurunan bunga kredit sehingga margin keuntungan juga membesar.

Situasi krisis makin parah

Rata-rata rentang suku bunga deposito dan kredit perbankan nasional per November 2009 mencapai 5,78 persen, dengan rincian deposito sebesar 7,16 persen dan kredit 12,94 persen.

Rentang bunga terus meningkat sejak Januari 2009 yang hanya 3,66 persen. Kondisi ini, kata Iman, tergolong pro cyclical atau menambah situasi krisis semakin parah. Sektor riil dan masyarakat yang membutuhkan modal untuk bangkit dari krisis akhirnya tidak bisa mengakses kredit karena bunganya relatif tinggi.

Dalam situasi ini, kebijakan moneter bank sentral melalui transmisi suku bunga menjadi tidak efektif. Di tengah daya beli debitor yang menurun, beban membayar bunga akan terasa lebih berat. Debitor tak bisa berbuat apa-apa karena posisi tawar yang lemah.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara menjelaskan, peningkatan laba bersih perbankan dipicu sejumlah hal. Pertama, bank tidak banyak menyisihkan biaya pencadangan karena peningkatan kredit bermasalah relatif kecil.

Kedua, penurunan bunga deposito pada triwulan IV-2009 akibat kesepakatan 14 bank besar telah meningkatkan margin bunga bank.

Menurut Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, peningkatan laba bersih perbankan juga disebabkan oleh keberhasilan perbankan menghimpun dana murah, seperti tabungan dan giro. Ini membuat biaya dana perbankan semakin rendah.

sumber: KOMPAS CETAK

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: