jump to navigation

Tekstil Masuk Daftar Hitam Perbankan 15 April 2010

Posted by Samsul Hadi in Uncategorized.
Tags: , , ,
trackback

Kekhawatiran kredit macet untuk usaha tekstil lokal membuat bank-bank sedikit memperketat pemberian pembiayaan pada usaha tersebut.

”Secara umum memang perusahaan tekstil sekarang sedang mengalami masa keterpurukan. Daya saing di pasar internasional juga sangat rendah. Karena itulah kita memang lebih selektif untuk mengucurkan kredit di bidang ini,” kata Head of Sales & Distribution Jatim dan Indonesia Timur Bank CIMB Niaga M Pujiono Santoso, ketika dihubungi, Rabu (14/4).

Dikatakannya, industri ini adalah salah satu industri yang sangat tergantung dari ketersediaan minyak dan gas. Bila kedua komoditi ini mengalami kenaikan harga, otomatis harga produksi komoditas tekstil juga akan naik yang akan semakin menurunkan daya saing dengan produk luar negeri.

Meski demikian, ditegaskannya, untuk pemberian kredit kepada pengusaha tekstil akan kembali dilihat track record pengusaha yang bersangkutan. “Bila track record-nya baik, kami tetap akan memberikan kredit kok,” tandasnya.

Sama dengan yang diterapkan di CIMB Niaga, BCA juga menerapkan kebijakan serupa untuk pemberian kredit kepada pengusaha tekstil. ”Secara umum memang kami juga melihat pasar tekstil domestik yang cenderung stagnan bahkan kesannya tertekan belakangan ini,” kata Kepala Kantor Wilayah BCA Surabaya, Joni Handrianto. Menurutnya, mesin-mesin tua yang digunakan di usaha tekstil Indonesia sekarang tidak akan mampu bersaing dengan mesin berteknologi baru yang dimiliki China. Meski demikian, pengucuran kredit-kredit untuk pengusaha yang mempunyai track record baik dan mempunyai pasar yang jelas tidak akan ditolaknya. ”Contohnya seperti di Bandung yang usaha tekstilnya maju pesat kita terus dorong pengucuran kredit kesana. Dan jumlahnya tidak sedikit,” lanjut Joni.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) merilis survei yang menyebutkan tingkat kucuran bank terhadap usaha tekstil sangat rendah.

“Berdasarkan hasil survei, sektor industri pengolahan khususnya subsektor tekstil masih dihindari perbankan dalam menyalurkan kredit. Hal ini disebabkan karena bank menganggap masih lemahnya permintaan tekstil dari luar negeri, sementara kompetisi produk tekstil dalam negeri cukup ketat terutama dengan maraknya produk tekstil impor,” seperti dikutip dari situs resmi BI.

Survei tersebut dilakukan dengan mengambil sampel dari 43 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta dengan pangsa kredit mewakili 80% dari total kredit bank umum secara nasional.

Dari hasi survei tersebut juga diketahui menurut jenis penggunaan, permintaan terbesar pada kredit modal kerja dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) 29,5%. Sementara kredit investasi terjadi kenaikan peningkatan SBT dari 11,8% menjadi 26%.

Sedangkan kredit konsumsi mengalami penurunan, dengan SBT pada triwulan I-2010 sebesar 10,9%, dibandingkan SBT pada triwulan IV-2010 yang mencapai 79,5%.

Untuk permintaan kredit yang berasal dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran sangat rencah. Ini tercermin dari menurunnya SBT ke level minus 50,8%.

Secara umum, peningkatan permintaan kredit oleh masyarakat direspons positif oleh perbankan, yang ditunjukkan oleh menurunnya jumlah aplikasi kredit yang tidak disetujui dari 19,8% menjadi 14,3%.

Sumber: Surabaya Post

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: